Berkendara dengan menggunakan mobil maupun dengan sepeda motor di kota Jakarta yang memiliki trafic lalu lintas super sibuk tentu saja bukan hal yang mudah dan nyaman. Selain di repotkan oleh kemacetan yang semakin hari-semakin menjadi jadi, kita juga sering di suguhi dengan sebagian aksi pengendara kuda besi yang masih memiliki tingkat kesadaran keselamatan berkendara yang rendah. efek ini selain semakin menambah faktor kecelakaan lalu lintas tetapi juga akan memunculkan efek domino atas perilsaya yang semakin hari dianggap sebagai kebiasaan lalu lintas sehari hari.
Hal ini tentu saja membuat kita semakin hari menjadi resah, hilangnya kenyamanan di dunia transportasi pun tak pelak kerap menimbulkan emosi di setiap pengendara, sehingga terkadang kita juga melihat orang-orang di jalan raya melampiaskan rasa emosi dengan seenaknya, saling teriak bahkan adu jotos akibat mudahnya emosi muncul karena faktor lalu lintas semata.
Terkadang juga suka terbawa emosi dengan segala sesuatu yang terjadi di jalan raya yang bersifat merugikan orang lain. mulai dari kendaraan yang berada di depan kita yang tiba-tiba berbelok secara mendadak, sampai ada pengendara yang menerobos lampu lalu lintas yang sangat besar resikonya.
Tapi, semua bahaya itu bisa kurangi dengan sadarnya kita akan konsep “Safety Riding“?. Selain ngeblog, sebaiknya konsep yang satu ini mesti kita pelajari dan di cerna dengan seksama loh, karena pada dasarnya safety riding bukan hanya bicara mengenai keselamatan berkendara saja, namun etika berkendara juga bisa terbentuk apabila kita menyadari pentingnya safety riding tersebut.
Berdasarkan penjelasan yang saya rangkum dari berbagai sumber di internet, Pengertian konsep safety riding adalah sebuah konsep atau cara berkendara yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi seorang pengendara maupun kepada pengendara lainnya, safety ridding sendiri juga terdiri atas faktor non teknis dan faktor teknis dalam berlalu lintas. Dimana secara teknis mencangkup pada perlengkapan berkendara, hingga kelengkapan dari sebuah kendaraan bermotor. sedangkan faktor non teknis nya bisa kita bilang sebagai faktor manusianya dimana ada pada individu masing-masing pengendara.
Buat semua yang menggunakan kendaraan bermotor, maupun yang menggunakan kendaraan umum, Safety Ridding ini adalah harga mati yang haru kita realisasikan ke semua lapisan, bisa itu melalui menginformasikan tulisan di blog kita ke teman-teman di internet, dan yang terpenting adalah menerapkannya pada diri kita sendiri.
Belajar Santun Berlalu-lintas
Banyaknya kecelakaan berlalu-lintas yang terjadi belakangan ini juga akibat dari para pengendara yang tidak lagi menjunjung tinggi etika dalam berlalu-lintas. Seribet itukah hingga harus ada etika dalam berlalu-lintas? Ya, menurut saya ini bukanlah hal yang ribet. Etika kita buat dan sepakati bersama karena untuk mengatasi sebuah masalah. Dan menurut saya salah besar jika menganggap etika justru membatasi ruang gerak ekspresi kita. Yang perlu kita sadari bersama hak berekpresi bukanlah sebuah hak yang absolute, namun ada batasan-batasannya. Dalam hal ini etika berlalu-lintas perlu disadari sebagai upaya melindungi para pengguna jalan maupun pengendara motor itu sendiri. Jadi rasanya terlalu naif jika kita tidak menghiraukannya.
Nampaknya untuk mengatasi permasalahan berlalu-lintas di negeri ini tidak cukup dengan UU ataupun Polisi lalu-lintas. Perlu ditumbuhkan dan dibangun kesadaran masyarakat akan budaya tertib berlalu-lintas. Untuk itu kita semua perlu belajar santun dalam berlalu-lintas. Kebut-kebutan di jalan umum jangan kita anggap hebat dan gagah. Namun mari kita tumbuhkan kesadaran bahwa itu tindakan yang salah, tindakan sok cari perhatian karena mungkin kurang dapat perhatian dari orang-orang terdekatnya. Tidak memakai helm dan menerobos lampu merah juga merupakan tindakan yang tidak beretika. Karena telah melanggar tata-tertib yang telah disepakati bersama.
Sering melihat pengendara wanita yang memang tidak kebut-kebutan, tidak memotong jalan sembarangan, tidak pula menerobos lampu merah. Tapi pakaiannya itu boz, masih banyak yang kelihatan seksi dan memamerkan tubuh. Ya kalau saya yang melihat yang terbesit dalam pikiran mungkin Astaghfirullah. Namun yang saya khawatirkan jika ada pengendara yang gara-gara ngeliat pakaian wanita itu jadi nggak konsen dan menimbulkan incident. Wah-wah siapa yang salah coba?! Maka dari itu berpakaian (khususnya wanita) juga menjadi bagian dari etika berlalu-lintas. Bukankah kita para generasi bangsa yang gaul dan terdidik?!. Jadi saya yakin pasti pada bisa menempatkan diri dan tahu batas-batas dalam berekspresi.
Untuk mengakhiri tulisan ini, kiranya saya ingin mengajak seluruh masyarakat “Mari Budayakan Tertib & Santun dalam Berlalu-lintas”. Ini akan menjadi mudah jika kita niatkan bersama. Mari bangun kesadaran diri dan kesadaran masyarakat bahwa santun dalam berkendara adalah salah satu kunci keselamatan bersama. Ingat, jalan raya bukan milik kita pribadi, tapi milik umum (Negara). Yang dibangun melalui anggaran yang berasal dari uang rakyat. Jadi semua orang memiliki hak yang sama dalam memakai jalan umum. Dan semua wajib menjaga ketertiban serta kesopanan dalam berkendara. Bukan cuma tugas seorang Polisi, tapi kewajiban kita bersama. Mari tanamkan slogan dalam berkendara, “Anda sopan, Kami akan segan”!
Selengkapnya Bisa di lihat di sini : Etika dalam berkendara
Terimakasih informasinya
BalasHapus